KH Syukron Ma’mun

Biodata lengkap

NAMA : KH Syukron Ma’mun BA
LAHIR : Sampang,Madura Jawa Timur 21 Desember 1941
PENDIDIKAN : SR (SD) dan madrasah Miftahul Ulum di Sampang, sekolah
Guru di Sampang (1956), Pesantren salafiyah Pasuruan
Jawa Timur, Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Timur, institut
Daarussalam Gontor
KARIR : pendiri ikatan pemuda NU sampang, ketua umum lembaga
Da’wah NU, Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman,
Ketua umum Ittihadul muballighin, ketua umum Partai
Nahdlatul ummah.
KELUARGA
AYAH : KH Ma’mun Nawawi
IBU : Hj Masturoh
ISTRI : Hj Afifah Noer
ANAK 1 : Ustadz H. Ahmad Zainal Ridlo
ANAK 2 : Ustadz H. M Faiz
ANAK 3 : Ustadzah Hj Qonita Lutfiyah
ANAK 4 : Ustadz H. Umar Faruq
ALAMAT : Jln. Senopati No.35.A Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Perjalanan Hidup

Dipesantren salafiyah, Pasuruan Jawa Timur, KH Syukron Ma’mun menimba ilmu dari kitab kuning selama 2 tahun, kemudian beliau melanjutkan kepesantren Gontor, Ponorogo. Setelah 9 tahun di Gontor, beliau melalui 5 tahun menimba ilmu, 4 tahun mengajar, kiyai kelahiran Sampang, Madura Jawa Timur ini pada tanggal 21 Desember 1941 kemudian masuk institut Daarussalam, masih di Gontor. Beliau merupakan sarjana angkatan pertama dari perguruan Gontor. Kelak dikemudian hari, ilmu yang ditimba dari dua pesantren itu dikombinasikan dipesantren Daarul Rahman, Jakarta yang dipimpin beliau.

Hijrahnya beliau dari Gontor ke Jakarta berkat ajakan KH Idham Chalid mentri agama dan juga ketua umum PBNU di zaman presiden Soekarno. Tinggal di satu rumah dengan KH Idham Chalid, KH Syukron Ma’mun berkesempatan belajar politik dan organsasi dari beliau. Saat itu beliau ada keinginan untuk pergi keluar negeri. Tapi, karena mulai sering sibuk dalam kegiatan sosial, kata beliau, “Akhirnya saya memutuskan berkecimpung dimasyarakat saja, ke masjid-masjid”. Dalam benak beliau, walaupun belajar keluar negeri seperti ke Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, pulangnya ke masjid juga.

Jalan lurus untuk mendirikan pondok pesantren terbuka setelah beliau menikah dengan Ibu Afifah Noer, pada tahun 1971 oleh KH Abdurrahman bin Naidi yang mana beliau orang Betawi asli yang punya tanah luas, KH Syukron Ma’mun diberi lahan untuk diwakafkan di jalan Senopati, Jakarta Selatan. Diatas tanah itu, beliau mula-mula membangun Madrasah Ibtidaiyyah, kemudian pada tahun 1975 beliau mendirikan (dan sekaligus mengasuh) Pondok Pesantren Daarul Rahman. Pesantren ini menggunakan sistem pendidikan gabungan antara kurikulum Pondok Pesantren Salafiyah dan Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo.

Dari Gontor beliau memperoleh kemahiran dalam berbahasa Arab dan berbahasa Inggris serta cara berorganisasi, sedangkan dari Salafiyah beliau mendalami kitab kuning. Tapi , karena menggunakan ujian sendiri dan tidak ikut ujian negara, ijazah dari Pondok Pesantren Daarul Rahman tidak diakui pemerintah orde baru. Barulah setelah melalui perjuangan panjang, mentri pendidikan nasional di zaman reformasi, Bapak Malik Fajar, mengeluarkan SK bahwa Pondok Pesantren Daarul Rahman tidak perlu ikut kurikulum pemerintah, tidak perlu ikut EBTA/EBTANAS, cukup menjalankan kurikulum yang ada dipondok tapi ijazahnya berstatus disamakan dengan ijazah negeri. Dalam pandangan KH Syukron Ma’mun, penyeragaman kurikulum dapat mengakibatkan orang mengabaikan kualitas “Mestinya pemerintah membebaskan kurikulum, baru nanti pemerintah yang melaksanakan ujian negara, “ katanya.  Beliaupun mencontohkan Universitas Al Azhar dan California University (Amerika Serikat) yang tidak menggunakan kurikulum pemerintah, tapi berpacu untuk maju hingga diakui oleh masyarakat. “Yang paling penting bagi pendidikan adalah pengakuan masyarakat,” beliau menegaskan.

Saat ini, selain tetap mengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta, Parung, dan Bogor, KH Syukron Ma’mun merupakan ketua umum Partai Nahdatul Ummah. Melalui partai yang berlandaskan Islam ini, beliau ingin mengabdi pada negara dengan memberikan masukan dibidang hukum, ekonomi, dan lain-lain. Menurut beliau secara ekonomi, Indonesia sudah sangat bergantung pada luar negeri. Soal penegakan hukum yang belum juga membaik, beliau berpendapat bahwa hukum di Indonesia yang merupakan warisan kolonial Belanda, sudah tidak berwibawa. “Makanya buat hukum alternatif yang berwibawa, “ kata beliau, lalu melanjutkan “Insya Allah, hukum yang berwibawa itu hukum Islam.”

Walau demikian, beliau tidak merasa perlu mendirikan negara. Yang penting, kata pendiri IPNU Sampang, Madura ini bagaimana syariat Islam itu berlaku.  Sebagai pemimpin, KH Syukron Ma’mun kelak diakhirat akan dimintai pertanggung jawaban, “Orang-orang Islam itu seharusnya takut jadi pemimpin, kalau dia mengerti,” ujar beliau. “Dalam Islam kalau dipercaya jadi pemimpin, jangan ditolak, tapi jangan pula meminta, karena tangung jawabnya berat“.

KH Syukron Ma’mun tidak berniat untuk berbisnis. Kata beliau, “Asal bisa hidup dengan keluarga itu  sudah cukup. Tidak membayangkan menjadi konglomerat, bukan bakat saya, “ ujar beliau. Meski sibuk, beliau merasa tidak ada masalah dengan pengaturan waktu. “Da’wah jalan, keluar negeri jalan,” tutur beliau. Demikian pula dengan mendidik anak-anak beliau. “Saya dirumah sebagai suri tauladan, bagaimana saya shalat, mengajarkan semua suri tauladan bagi anak-anak saya”. Begitu juga untuk seluruh santrinya beliau berharap akan banyak penerus-penerus yang akan menjadi seperti dirinya, dan akan lebih baik jika ada yang dapat melebihi beliau. Sudah sepantasnyalah beliau menjadi salah satu idola kita, beliau yang tak pernah putus asa, selalu berusaha mengapai cita-citanya. Segala keberanian beliau dalam membela kebenaran juga kepatuhan beliau akan orang tua dan guru-guru beliau sangatlah patut kita teladani.